Sehangat Matahari Pagi

Bagi saya, mengajar adalah kegiatan yang unik, apalagi mengajar anak pra sekolah. Terkadang hanya kata-kata sederhana seperti, “Kamu memang pandai …, keren kerjamu bagus …, kamu pasti bisa …, siapa bilang kamu bodoh? Atau hati-hati ya Anak ganteng …” Ternyata dapat merubah semangat seseorang dalam perkembangan selanjutnya.

Kalimat di atas adalah salah satu kutipan kisah dari tulisan Ibu Anita Sofyan, seorang guru Lulusan pendidikan Anak Pra Sekolah dan Dasar, IKIP Jakarta. Yang telah berpengalaman selama 20 tahun mengajar anak-anak dalam kisahnya berjudul The Power of Words.

Buku Sehangat Matahari Pagi ditulis oleh 70 orang pendidik, dengan berbagai macam pengalaman seru dan mengharu biru. Ada saja cerita lucu dalam setiap pengajaran. Seperti tulisan koordinator buku ini Yuliani Handayani, yang merupakan kepala sekolah SD Islam Al Azhar 60 Pekalongan. Bu Yuliani dalam kisah berjudul Semua Gara-Gara Burung, bercerita tentang pengalaman mengajar anak bule yang belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Bahwa untuk menjelaskan ke anak-anak, guru perlu memberikan penjelasan yang logis dan sederhana.

Aura positif juga terus ditebarkan dalam buku ini, sebagaimana matahari yang memberikan kehangatan di pagi hari. Salah satu penulis bernama Fatimah Qomariah yang bercerita bagaimana proses belajar tetap berlangsung di kala pandemic Covid-19 melanda negeri ini. Materi diberikan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dalam kisah Semoga Ada Surga di Mata si Kecil yang menyiratkan rasa sayang guru pada murid-muridnya ini seolah menggambarkan rasa kangen luar biasa. Seperti petikan puisi di bawah ini.

Tak terasa…

Waktu menggelinding bagaikan bola raksasa

Menghempas tarikan nafasku

Mengurangi detak jantungku

Berlinang air mataku

Terbersit cahaya mentarimu

Menggenggam tali meraih hasil

Semoga surga ada di mata si kecil

Ada Lagi dari kisah Pak Suwarjo, pria kelahiran Magetan, Madiun, Jawa Timur yang besar di lingkungan keluarga petani. Dengan kisahnya berjudul sang mentari terus bersinar. Kisah ini menghadirkan cerita mengharu biru tentang perjuangan seorang anak desa meraih cita-cita dan mimpinya.

Cerita ini dimulai dengan penggambaran suasana desa, dan yang unik anak dilatih hidup teratur dan disiplin. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya sudah terjadwal.

Bangun tidur selalu pagi, bergegas salat subuh lalu dia diajari untuk menyapu halaman, membersihkan rumah, mengisi bak mandi, dan berangkat ke sekolah. Setiap pulang sekolah harus mencari kayu di hutan untuk masak bibinya. Setelah pulang mencari kayu dia berolahraga. Kesukaannya bermain bola voli. Setiap menjelang magrib meskipun permainan belum selesai, dia langsung lari karena takut yang mengisi minyak lampu teplok keduluan pamannya. Nah, kebiasaan penting yang diterapkan oleh pamannya sebelum tidur adalah membaca dan belajar sampai jam sembilan malam. Barulah setelah itu dia diperbolehkan tidur.

Kisah lainnya, berasal dari Pak Andrias Haris Cahyo Raharjo, Guru dari sekolah Mentari Grand Surya Jakarta Barat. Judul kisah ini adalah Kuncup Mekar: Anak Jogja Jadi Guru.

Cerita kisah ini mengandung pesan yang mendalam seorang guru TK yang mampu memberikan pesan sampai muridnya dewasa dan menjadi guru. Petuah gurunya dulu sewaktu taman kanak-kanak, yaitu menahan diri. Menahan diri dari tindakan yang merugikan, dari emosi sesaat, dan dari perilaku yang bisa mengecilkan kepercayaan diri seorang anak yang sedang menimba ilmu.

Cahyo meyakini bahwa ilmu tersebut adalah sebuah kunci sukses awal seorang guru. Pengetahuan di mana hal baik diawali dari menahan diri dan menjaga diri. Cahyo bangga menjadi seorang guru di ibu kota. Itulah kunci sukses menjadi pendidik di ibu kota. Ia mendapatkan semua ilmu tersebut berawal dari taman kanak-kanak bernama Kuncup Mekar di Kota Gudeg.

Buku ini kemudian ditutup dengan manis dengan kisah Bu Caroline Mathilda, Guru sekaligus praktisi pendidikan yang berjudul Guru Lebih Pintar Beberapa Jam daripada Muridnya.

Pendidik bukan hanya mengajarkan (teaching), melainkan juga mendidik (educating). Mendidik tidak dapat digantikan oleh teknologi informasi, sebab murid membutuhkan pendekatan humanis, bukan mesin. Maka dari itu, kemampuan mengajar yang mumpuni saja tentu tidak cukup untuk membuat peserta didik berkembang, baik kognisi, perilaku, dan afeksinya.

Sebagai pendidik, Hari Pendidikan Nasional 2020 ini dapat kita jadikan momentum untuk melakukan refleksi diri. Apakah mendidik sebagai pemenuhan kebutuhan finansial atau aktualisasi diri? Sehingga bagi kita: learning is an obligation? Ataukah, kita hidup untuk mendidik, sehingga bagi kita: learning is a necessity? Saat kita hidup untuk mendidik dan kita senantiasa belajar, maka hasilnya akan tercermin dari peserta didik yang juga menanamkan dalam hatinya bahwa belajar adalah kebutuhan, bukan kewajiban.

Learning is a necessity, not an obligation.

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca oleh pendidik, orang tua dan juga mahasiswa yang ingin bercita-cita menjadi guru. Dengan membaca buku ini, kita bisa meningkatkan mood boosters untuk terus memberikan hal-hal baik pada siswa dan siswinya.