Buku ‘Kasih Ibu’, Rekam Jejak Kasih Sayang kepada Ibu

“Kuingat saat kau menjagaku dengan penuh cinta,” begitulah sebaris kutipan puisi yang tertulis pada halaman judul buku antologi puisi Kasih Ibu. Dalam puisinya, Heidi selalu mengingat bagaimana sang ibu selalu merawat dan menjaganya dengan penuh cinta. Kutipan tersebut merupakan salah satu puisi dari 132 puisi yang ditulis oleh siswa-siswi SMP Mentari Intercultural School Bintaro (MISB).

Buku antologi puisi ini diterbitkan oleh Pandiva Buku pada Oktober 2019 dan didedikasikan untuk para ibu yang telah berjuang dalam melahirkan, membesarkan, mendidik, merawat, dan mendoakan putra-putrinya dengan penuh cinta dan kasih.

Karya tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi siswa-siswi MISB dalam meningkatkan kegiatan literasi Indonesia. Buku ini mengangkat tema kasih sayang seorang ibu. Dalam buku antologi puisi, setiap siswa mengungkapkan perasaannya untuk sang Ibu terkasih.  Ada ungkapan terima kasih seperti yang disampaikan melalui sebait puisi berikut ini,

Ibu, Keluh kesahku kau dengarkan
Nasihat demi nasihat kau lontarkan
Bagai air dalam kekeringan
Bagai obat dalam kepedihan
Terima kasih aku ucapkan

Melalui bait puisi tersebut, Kanesia Kanahaya Arif mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sang ibu. Dalam baitnya yang lain, ia mengungkapkan terima kasih kepada sang Ibu karena selalu ada untuknya dan selalu memberikan dukungan padanya pada setiap situasi sulit dalam hidupnya.

Ungkapan rasa terima kasih lainnya pun ditulis oleh Nazla Humaira dalam puisi berjudul “Ucapan Terima Kasihku”. Puisi tersebut berisi ungkapan terima kasih yang amat mendalam darinya untuk sang ibu karena sang ibu telah memenuhi segala kebutuhannya, selalu mendoakannya, dan selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Selain ungkapan terima kasih, para penulis juga mengungkapkan rasa penyesalannya kepada sang ibu atas segala sikap dan perbuatan yang menyakiti hati sang ibu, seperti yang ditulis oleh Audy Alicia Renata,

Aku menyesal
Benar-benar menyesal
Menyesal tidak meminta maaf
Menyesal membuatmu marah
Menyesal atas semua perbuatanku

Ungkapan permohonan maaf pun diungkapkan oleh Aisha Nadezhka melalui bait puisinya,

Aku berbeda pendapat dengan Ibu
Aku lari dan merasa rindu
Aku mengingat, ibu yang selalu bersamaku
Saat bersedih
Dan aku pergi seperti itu
Aku menyesal
Maaf ibu

Antologi puisi ini tidak hanya berisi ungkapan rasa terima kasih dan permohonan maaf para penulis kepada sang ibu, tetapi juga berisi perjuangan dan pengorbanan yang telah ibu lakukan kepada anak-anaknya. Hal itu bisa dilihat dalam puisi yang ditulis oleh Darvina Salsabila Maheswari yang berjudul “Pengorbanan Ibu”. Dalam puisi tersebut, penulis mendeskripsikan sosok seorang ibu yang telah rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Dalam puisi tersebut, penulis juga mendeskripsikan bagaimana sosok ibu rela menyembunyikan rasa sakitnya demi kebahagiaan sang anak.

Uniknya, tak hanya siswa-siswi berkewarganegaraan Indonesia saja yang mengungkapkan isi hatinya melalui antologi ini, tetapi juga siswa-siswi berkewarganegaraan asing turut serta memberi warna dalam antologi ini, seperti kutipan berikut yang ditulis oleh Louiz Antonio B. Balendo.

Ibu,
Jika engkau jadi mentari
Maka aku jadi bumi
Senantiasa bersama

Tak akan pernah habis kata dalam mengungkapkan isi hati seorang anak kepada sang ibu. Antologi ini pun bercerita tentang harapan dan doa-doa sang anak untuk ibu terkasih, seperti yang terdapat di dalam kutipan bait puisi berikut ini, karya Nabiel Malik Ibrahim,

Ibu
Setiap detik selalu kupanjatkan doa untukmu.
Setiap kegiatan yang kulakukan tak kan buatku lupa padamu.
Kuharap surgalah singgasanamu…

Antologi kasih ibu ini mendeskripsikan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para ibu untuk anak-anaknya.  Pendeskripsian ini dilakukan dengan sangat baik oleh para penulisnya. Para penulis mampu mendeskripsikan sosok seorang ibu dengan berbagai pilihan diksi dan gaya bahasa yang indah dan bermakna. Tentunya, membuat para pembaca merasa tersentuh dan ingin segera mendekap sang ibu setelah membaca antologi ini.

Hal menarik lainnya dari buku antologi ini adalah halaman judul. Dalam halaman judul, terdapat gambar seorang ibu yang sedang mendekap sang anak. Dengan melihat gambarnya saja, kita bisa langsung mengetahui tema besar yang diusung dalam buku ini, yaitu kasih sayang ibu kepada anaknya. Selain gambar, warna putih pada halaman judul juga menyimbolkan makna khusus. Seperti yang kita ketahui, putih merupakan simbol kesucian. Bila kita kaitkan dengan tema yang diusung dalam antologi ini, simbol tersebut memberi makna bahwa kasih sayang seorang ibu itu suci, murni, dan tulus kepada anak-anaknya.

Antologi puisi ini merupakan rekam jejak karya siswa-siswi MISB dalam mengekspresikan isi hatinya kepada sang Ibu terkasih. Tema yang diangkat tentu menjadikan karya ini tak lekang oleh waktu. Antologi ini sangat cocok sebagai hadiah istimewa untuk para ibu terkasih.

Add Comment