Langkah Pemkot Bogor Cegah Penyebaran Virus Corona

Rapid test dengan metode drive thru yang digelar di pelataran Stadion GOR Pajajaran. (Foto: Pemkot Bogor)

Bogor Tengah – Sejak pertengahan Maret lalu, status Kota Bogor menjadi zona merah terkait wilayah yang terpapar virus Corona (Covid-19). Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor pun tidak tinggal diam. Ada sejumlah langkah yang ditempuh demi mencegah semakin merebaknya wabah virus asal China itu.

Sebelum ada warganya yang terinfeksi pun, seluruh camat, lurah, dan dinkes digerakkan untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat, menguatkan sistem rujukan bagi warga atau pasien terindikasi Corona untuk melakukan tes.

Selain itu, hal yang dilakukan sebagai langkah awal yaitu memastikan tempat hiburan dan wisata ditutup. “Kami koordinasikan dengan LIPI untuk Museum Tanah, Museum Pertanian, Museum Munasain, Museum Balai Kitri, seluruh perpustakaan digital pertanian sudah ditutup,” terang Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, dikutip dari laman Pemkot Bogor.

Tak hanya itu, sederet aksi konkrit pun dilakukan, salah satunya menggelar tes cepat (rapid test) Covid-19 dengan sistem drive thru di berbagai titik. Penyelenggaraan sistem drive thru ini dilakukan kepada ratusan orang dalam pengawasan (OPD) Covid-19.

Dikatakan Dedie, metode ini merupakan usulan dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil karena dinilai aman untuk meminimalisir adanya kontak antar peserta tes. “Kita melakukan dengan metode drive thru, jadi semua kendaraan akan masuk melalui dua pintu dan nanti akan ada beberapa titik lokasi pengecekan,” sambungnya.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bogor Irwan Riyanto melanjutkan, rapid test ini akan dibagi tiga, yaitu PDP, ODP, dan ODR dengan jadwal yang sudah ditentukan. Untuk semua peserta, data tersebut berasal dari Dinkes Kota Bogor berdasarkan nama dan alamat.

Skenario Lockdown

Dalam mencegah meluasnya penyebaran Covid-19, Pemkot Bogor sudah menyiapkan skenario lockdown atau karantina wilayah. Namun, kebijakan ini akan dilakukan jika sudah ada keputusan dari pemerintah pusat.

Skenario tersebut terdiri dari dua rencana, yakni: rencana A, lockdown di pusat kota yang akan menutup lima akses jalan utama; dan rencana B, lockdown di seluruh kota dengan menutup sembilan akses jalan menuju ke Kota Bogor.

Lockdown itu kewenangan Presiden. Tetapi pada prinsipnya kami siap. Kami yakin masyarakat mendukung, tapi sosialisasi harus dilakukan supaya masyarakat tahu,” terang Dedie A. Rachim.

Jika skenario ini diberlakukan, sambung Dedie, tidak semua warga bisa melintas di jalan raya. Namun pengecualian bagi yang akan ke rumah sakit, tenaga medis, distributor sembako. “Intinya, tidak ada kepentingan lain selain urusan penyelamatan warga atau yang berhubungan dengan Covid-19,” tegasnya.