Usung Visi Kota Ramah Keluarga, Bima Arya Minta Seluruh Jajaran Konsisten pada Program Ketahanan Keluarga

Bima Arya menyampaikan pidato dalam upacara peringatan Hari Keluarga Nasional di Plaza Balai Kota Bogor, Senin (1/7/2019). (Pemkot Bogor)

Bogor Tengah – Kota Bogor merupakan satu-satunya pemerintah tingkat kota/kabupaten yang mengusung visi menjadi Kota Ramah Keluarga. Dalam momentum peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) pada Senin (1/7/2019), Wali Kota Bima Arya meminta seluruh jajarannya untuk konsisten dalam memastikan seluruh rencana kegiatan pembangunan mengacu kepada ketahanan keluarga.

“Penguatan fungsi keluarga sebagai faktor yang utama. Seluruh kegiatan kita memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia menjadi komitmen yang tidak goyah,” ujarnya. Bima mengajak agar semua pihak bersama-sama untuk bisa memulai konsep-konsep ketahan keluarga dan fungsi penguatan fungsi keluarga. Hal itu harus dilakukan secara konsisten.

Ia menyadari pentingnya lembaga keluarga dalam membangun suatu bangsa. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian anak bangsa dan kehidupan bernegara. Bima kemudian menyebutkan ada delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi agama, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan, fungsi reproduksi, fungsi sosial budaya, dan fungsi lingkungan.

Peringatan Harganas tahun ini, lanjutnya, masih sama dengan sebelumnya karena mengedepankan keikutsertaan keluarga dan mencerminkan penerapan empat pendekatan ketahanan keluarga. Pertama, keluarga berkumpul (reuniting); kedua, keluarga berinteraksi (interacting); ketiga, keluarga berdaya (empowering); dan keempat, keluarga peduli dan berbagi (sharing and caring).

“Peringatan Harganas tahun ini mengambil tema ‘Hari Keluarga, Hari Kita Semua’ dan slogan ‘Cinta Keluarga, Cinta Terencana’. Dengan tema dan slogan tersebut, maka peringatan Harganas diharapkan dapat dijadikan sebagai momentum dan pemacu bagi keluarga Indonesia untuk terus-menerus berupaya meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga agar dapat menghasilkan generasi yang berkualitas,” terang Bima.

Program Penguatan Fundamental Keluarga

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat paham betul bahwa keluarga adalah lembaga terpenting dalam membangun suatu bangsa. Menurutnya, pandangan keluarga baik pada masa lalu belum tentu diterima oleh keluarga masa kini. Hal itu karena adanya perubahan lingkungan strategis yang terjadi sangat cepat dan kehadiran revolusi industri 4.0.

Pada tatanan keluarga, situasi tersebut membuat waktu berkumpul yang berkualitas mulai terabaikan. Kemudian, muncul kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak karena keterbatasan waktu untuk mendengarkan keluh kesah atau masalah, terutama pada anak remaja.

Selain itu, lanjut Emil, keluarga kerap tidak tanggap atau kurang peduli pada kejadian-kejadian di lingkungan sekitar. Pada akhirnya, budaya gotong royong antar warga, antar masyarakat, bisa dikatakan, hampir luntur. “Tantangan keluarga hari ini makin besar pada revolusi industri yang membuat kadang-kadang kualitas komunikasi keluarga menjadi tereduksi. Ada tantangan-tantangan generasi muda terkait bahaya narkoba, pernikahan dini, dan lain-lain,” kata Emil.

Oleh karena itu, Emil menyatakan bahwa atensi Pemerintah Pusat maupun Pemdaprov Jawa Barat tertuju pada program-program penguatan fundamental keluarga. Salah satu program yang dicanangkan Pemerintah Pusat dan Pemdaprov Jawa Barat adalah 621.

“Kita ada program dari nasional, program 621 yaitu berharap setiap jam 6 sore sampai jam 9 malam kita tidak melakukan adanya kegiatan bergadget. Maksudnya, agar dijadikan momentum untuk bersama keluarga,” katanya.

Emil juga menyatakan bahwa kunci keluarga kuat, sehat, dan bahagia terletak pada waktu berkumpul dan kualitas komunikasi dengan semua anggota keluarga. Jika dua hal itu diimplementasikan dengan baik, membentuk keluarga harmonis dan bahagia bukan perkara sulit.

“Kuncinya adalah memberi ruang kepada setiap anggota keluarga untuk punya waktu yang berkualitas dengan sesama anggota keluarganya. Hanya itu. Tanpa itu mau semewah sekaya apapun kalau tidak berkualitas waktu di sini tidak menjadi keluarga yang harmonis,” katanya.