Menanti Kemeriahan Hari Jadi Bogor ke-537

Logo Hari Jadi Bogor ke-537. (Pemkot Bogor)

Bogor – Peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-537 tahun ini sudah di depan mata. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Bogor tengah mempersiapkan sejumlah rangkaian acara sebagai ajang kesenian dan kebudayaan di Bogor.

Kepala Disbudpar Shahlan Rasyidi menerangkan, beberapa rangkaian itu telah diselenggarakan selama bulan puasa seperti Festival Marawis,dan Bazar Ramadan yang masih akan berlangsung hingga tanggal 4 Mei di Halaman Masjid Al Muhlisin.

Shahlan menambahkan, HJB pada dasarnya diperingati setiap tanggal 3 Juni. Namun, di tahun ini bertepatan dengan bulan puasa. Oleh karena itu, puncak acara akan dimeriahkan pada 30 Juni mendatang. Adapun rangkaian acara saat puncak nantinya, antara lain: Helaran pada 30 Juni; Istana Open pada 15-19 Juli; dan Gebyar Ekonomi Kreatif pada 16-18 Juli bertajuk 5F (Film, Food, Fashion, Fotografi, serta Festival dan Parade Musik).

“Festival band dan parade band nanti akan menampilkan berbagai band dari Malang, Garut, Semarang, Yogyakarta, sekaligus akan menampilkan pencinta musik Koes Plus,” tuturnya.

Tak hanya itu, festival kuliner pun akan turut mewarnai HJB kali ini, yang rencananya akan mendatangkan 4 ribu jenis toge goreng.

Sementara itu, pada Helaran HJB nanti akan diramaikan ratusan atraksi kesenian mulai dari pertunjukam Liong, Barongsai, Reog Ponorogo, Pencak Silat, Ogoh-ogoh khas Bali, Rumah Sunda, Drumband, Kereta Kencana, serta belasan kuda yang akan menjadi tunggangan Wali Kota, Wakil Wali Kota, jajaran Muspida, dan tamu VVIP lainnya.

“Serta partisipasi dari semua OPD yang tahun ini harus menampilkan kesenian, tidak lagi hanya sekadar pawai jalan kaki,” lanjut Shahlan.

Esensi Tema dan Logo

Tema HJB tahun ini ialah “Satata Sariksa”. Tema tersebut diangkat untuk mengingatkan kembali rumusan kebersamaan hidup yang ada dalam ajaran karuhun. Dalam ungkapan Satata Sariksa yang berarti “satu aturan bersama-sama memelihara” ini diharapkan dapat menciptakan kebersamaan hidup yang sempat terkoyak akhir-akhir ini.

“Sikap yang ada di masyarakat bukanlah saling bersaing, melainkan saling mendukung, membantu, guyub rukun untuk kebaikan bersama dalam konteks hidup bermasyarakat,” terang Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip Hidayat.

Sementara itu, logo HJB ke-537 menggambarkan napas keragaman, keselarasan, dan potensi yang dimiliki Kota Bogor. Unsur modern dan tradisional yang terdapat dalam ornamen-ornamen yang ada tampak melebur sebagai bentuk keselarasan dalam menjalani hidup.

“Itu bisa diartikan warga Bogor terus berusaha menyeimbangkan antara unsur budaya modern dan tradisional agar berjalan beriringan dengan baik,” imbuh Ade.