Dalam Unjuk Kabisa Moka 2019, Disbudpar Kota Bogor Ingin Fokus pada Ekonomi Kreatif

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) mengatakan, unsur ekonomi kreatif menjadi pesan penting yang terkandung dalam Unjuk Kabisa Moka 2019. (Foto: Pemkot Bogor)

Bogor Tengah – Semi Final Pasanggiri Mojang Jajaka (Moka) Tingkat Kota Bogor 2019 diisi dengan kegiatan Unjuk Kabisa dari 30 peserta Moka yang terdiri dari 15 Mojang dan 15 Jajaka Asli Kota Bogor. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) mengatakan, unsur ekonomi kreatif menjadi pesan penting yang terkandung dalam ajang ini.

“Tahun ini Unjuk Kabisa Moka bukan hanya sekadar kreatif, tapi harus mengandung unsur ekonomi kreatif,” ujar Shahlan Rasyidi.

Shahlan mengatakan, unsur keterampilan ekonomi kreatif selain menjadi tema juga bertujuan agar kelak para Moka ini bisa menyalurkan keahliannya dalam pembangunan ekonomi di Kota Bogor. Meski begitu kreativitas atau bakat lainnya tetap bisa ditampilkan pada Unjuk Kabisa.

“Kalau ekonomi kreatif kan misalnya itu kemampuan membuat film, animasi atau kerajinan tangan. Kalau kreativitas lain bisa juga seperti menari, jaipongan, bela diri silat, bermain gitar atau angklung, asal jangan dance modern karena Moka lebih fokus pada Kebudayaan Jawa Barat,” terangnya.

Juara pertama nantinya, kata Shahlan, selain mendapatkan hadiah juga akan menjadi perwakilan Kota Bogor di Moka tingkat Privinsi Jawa Barat. Untuk itu, pihaknya akan memilih peserta yang memiliki nilai terbaik. Seperti kemampuan bahasa sunda, minimal pendidikan D3, tinggi badan, cara berbicara dan tentunya etika.

Kedepankan Inovasi dan Kreativitas

Menanggapi fenomena ekonomi kreatif, Asisten Deputi Hubungan Kemasyarakatan Kementerian Sekretariat Negara Eddy Cahyono Sugiarto menjelaskan, ekonomi kreatif dapat dikatakan sebagai konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

“Ekonomi kreatif dengan turunan 16 sektornya antara lain fashion, seni, kuliner, design produk, game on line, film, animasi dan lainnya layak menjadi pilihan strategi untuk terus ditumbuhkembangkan,” paparnya.

Seperti pemberdayaan ekonomi pada umumnya, lanjut Eddy, ekonomi kreatif juga menghadapi sejumlah kendala. Satu hal yang paling banyak dikeluhkan oleh para pelaku industri kreatif, utamanya yang masih berupa rintisan, adalah belum kondusifnya regulasi sehingga perlu segera dilakukan harmonisasi regulasi simple cepat dan ramah terhadap lingkungan bisnis, utamanya star-up bisnis.

Ekonomi kreatif yang mengepankan inovasi dan kreativitas perlu didukung kejelasan aturan hukum terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dalam industri kreatif, HKI adalah nyawa, karena menjadi komoditas utamanya.

“Di bidang musik dan film, misalnya, ketidakjelasan aturan HKI menjadi celah bagi maraknya aksi pembajakan. Di industri musik dan film, persoalan pembajakan menjadi persoalan yang sampai hari ini masih menjadi tantangan,” imbuh Eddy.

Menurutnya, perlu terus dikembangkan ekosistem yang mendukung persemaian bibit-bibit unggul kaum milenial dalam menghasilkan karya kreatif, memasifkan penyebaran spirit enterpreneur dan kreasi di kalangan generasi muda melalui berbagai forum-forum diskusi dan sharing session sampai dengan ke akar rumput agar tumbuh talenta-talenta berskala internasional di bidang industri kreatif.

Pemerintah pusat dan daerah harus duduk bersama menyelaraskan shared vision agar formulasi manajemen strategik pengembangan ekonomi kreatif di berbagai daerah dapat diimplementasikan secara masif. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah dukungan cendikiawan melalui pengembangan penetrasi pasar dengan pemanfaatan online marketing, di samping berbagai terobosan lain, berpikir out of the box, menciptakan konektivitas ekonomi kreatif dengan pariwisata sebagai venue untuk proses produksi, distribusi, sekaligus pemasarannya.

“Dalam persaingan global yang kita hadapi dewasa ini, dengan penetrasi produk ekonomi kreatif yang tanpa batas, menyadarkan kita pula akan pentingnya menerapkan prinsip-prinsip marketing,” tambanya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, produk tidak semata-mata benda mati yang diperjualbelikan, namun lebih kepada strategi dalam mengemas produk, diferensiasi produk, targeting dan strategi dalam memasarkan produk. Untuk itu, diperlukan penerapan marketing intelejen, agar mengetahui kekuatan pesaing-pesaing dan selera pasar.

“Karena di era globalisasi, perang sejatinya adalah perang di medan ekonomi dan ekonomi kreatif menjadi senjata utamanya,” papar Eddy.

Add Comment