Fema IPB Lakukan Pengabdian di Kampung Baduy Mualaf Melalui Bara Muda

Pengabdian Masyarakat melalui program Bara Muda di Kampung Baduy Mualaf. (Foto: ipb.ac.id)

Lebak – Sebanyak 13 mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan pengabdian masyarakat melalui gerakan “Bara Muda (Baduy Sejahtera Muslim Berdaya)”. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampung Landeuh Baduy Mualaf, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Kegiatan diawali dengan survei lokasi pada awal April dan implementasi program dilakukan pada tanggal 10-12 Mei. Kegiatan dilaksanakan secara bertahap selama satu bulan.

Nurhayatul Ulfah, salah satu mahasiswa Fema IPB yang ikut program itu mengatakan, kegiatan pengabdian masyarakat ini terangkai dalam program Seratus Duta Sehat Indonesia yang difasilitasi oleh Dompet Dhuafa dan CSR PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP) yang bekerjasama dengan Fema IPB.

“Dalam kegiatan di lapangan kami bekerja sama dengan Komunitas Mbangundeso Faoundation sebagai komunitas yang terlebih dahulu berkegiatan di lokasi tersebut. Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat membantu masyarakat Baduy Mualaf untuk meningkatkan kemandiriannya pasca perubahan identitas mereka,” paparnya.

Fasilitasi Kehidupan Masyarakat

Masyarakat Baduy Mualaf merupakan masyarakat Baduy Luar yang sudah hijrah dengan memeluk agama Islam dan membentuk pemukiman sendiri yang terdiri atas 29 kepala keluarga. Masyarakat Baduy Mualaf secara langsung keluar dari wilayah adatnya sehingga mereka tidak berhak lagi atas hak ulayatnya.

Menurut Nurhayatul, pada awalnya masyarakat Baduy Mualaf tidak memiliki pemukiman atau perkampungan tersendiri, mereka terpisah-pisah sesuai dengan wilayah di mana mereka masuk Islam. Hal ini terkadang mengancam ketahanan hidup mereka karena keluar dari kebiasaannya saat menjadi masyarakat adat. Pemukiman yang terpisah serta mengais hidup secara individu tanpa dukungan dari manapun, menjadikan beberapa di antara Masyarakat Baduy Mualaf kembali memeluk kepercayaan “Sunda Wiwitan” yang biasa dianut Suku Baduy.

“Berdasarkan hal tersebut pada Agustus 2018 sebuah yayasan membantu mendirikan pemukiman masyarakat Baduy Mualaf di Desa Bojong Menteng,” tuturnya dalam situs resmi IPB.

Masyarakat Baduy Mualaf diberikan fasilitas rumah untuk dapat melanjutkan kehidupan mereka. Kondisi ini mengubah kebiasaan mereka sebagai masyarakat adat yaitu meramu dan berladang. Saat ini masyarakat Baduy Mualaf harus membeli semua kebutuhan rumah tangganya seperti beras, sayur-sayuran, dan kebutuhan pangan lainnya. Sedangkan dulunya saat mereka menjadi bagian masyarakat adat, mereka bisa memperoleh kebutuhan pokoknya dari hutan dan ladang.

Ketidakstabilan ekonomi yang dialami masyarakat karena perubahan identitas menjadikan mereka tidak mandiri dalam hal ekonomi. Masyarakat masih mengandalkan donasi-donasi dari berbagai pihak atas status mualaf mereka. Tidak dapat dipungkiri hal ini berdampak pada pola kehidupan dan aspek kesehatan masyarakat.

Lebih lanjut Nurhayatul mengatakan, atas dasar tersebut ia dan rekan-rekannya yakin bahwa program pemberdayaan gerakan Bara Muda melalui pengembangan kampung mandiri pangan penting untuk diimplementasikan. Program ini akan memfasilitasi masyarakat dalam beberapa sub pengembangan yaitu demonstrasi penanaman tanaman hortikultura di lahan pekarangan untuk mendukung pangan keluarga, sosialisasi dan demonstrasi gizi seimbang, demonstrasi MPASI (Makanan Pendamping ASI), cek kesehatan (asam urat dan gula darah), dan konsultasi keluarga. Kegiatan dilaksanakan dengan dua sistem yaitu berkumpul bersama warga di balai kampung dan mengunjungi setiap rumah warga.