Warga Sentul City Terbelah Pro dan Kontra Terhadap KWSC

Bogor, (10/12/2016), Sejumlah warga yang tergabung dalam Komite Warga Sentul City (KWSC) melakukan unjuk rasa kepada PT Sentul City dengan mengatasnamakan perwakilan dari para warga perumahan Sentul City. Mereka menuntut kesesuaian tarif air dan hanya ingin membayar sesuai tarif PDAM, mereka juga tidak mau membayar Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan Lingkungan (BPPL) karena menganggap itu adalah kewajiban dari pengembang. Unjuk rasa tersebut Sabtu siang, 10 Desember 2016 di depan kantor Marketing Office Sentul City dan juga di depan kantor SGC yang berfungsi sebagai pengelola Sentul City. Peserta unjuk rasa berjumlah sekitar 50 orang dengan menggunakan 30 buah mobil sebagai transportasi.

Ternyata tidak semua warga pro terhadap KWSC, adapula aspirasi sejumlah warga lainnya yang kontra dengan KWSC. Sebut saja, Ricky, seorang warga Sentul City mengatakan bahwa demo ini tidak mewakili warga, “Saya tidak mau gara gara demo begini nanti pelayanan menurun, sampah tidak diambil atau security tidak berkualitas, maka saya akan kejar KWSC. Setiap perumahan , setiap tempat pasti ada aturan main. Ada tata tertibnya sendiri dan itu wajar demi kenyamanan”. Ricky juga merasa pendapatnya diamini oleh sebagian besar warga.

Hasil investigasi menyebutkan, adanya perbedaan tarif dengan PDAM Kabupaten Bogor dikarenakan dalam menyalurkan air ke kawasan Sentul City diperlukan biaya investasi dan biaya operasional bulanan untuk menyalurkan air dari titik di Kandangroda dengan jarak lebih dari 17 Km ke kawasan Sentul City dengan perbedaan elevansi 150 Meter. Untuk itu perlu tambahan biaya operasional, SDM, listrik, pemeliharaan pompa, dan ijin-ijin. Sedangkan BPPL yang rata-rata Rp 2000/m2, dikenakan untuk kepentingan warga sendiri, yaitu untuk pengelolaan, keamanan, kebersihan, kerapian, dan ketertiban lingkungan. Tarif Itupun ternyata masih jauh di bawah sebuah perumahan di seputaran Serpong misalnya, yang bisa mencapai hingga Rp 3500/M2.