Malas Baca Label, Konsumen Terjebak Diskon!

Staf pengajar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dr. Megawati Simanjuntak. (Foto: IPB)
Staf pengajar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dr. Megawati Simanjuntak. (Foto: IPB)

Kota Bogor, BOGOR DAILY ** Diskon kerap kali dilakukan para produsen untuk menaikkan jumlah penjualan dan pelanggan. Mayoritas konsumen menganggap, jika sebuah barang telah diberi potongan harga, maka akan lebih murah. Padahal, seringkali pemasar telah menaikkan terlebih dahulu harganya alias harga katrol.

Ketidakmampuan konsumen dalam membedakan harga makanan kemasan yang paling murah antara yang telah didiskon dan yang tidak didiskon mengindikasikan masih banyak konsumen yang terkecoh, kata Staf pengajar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dr. Megawati Simanjuntak.

“Dalam riset yang kami lakukan, konsumen membeli susu dengan ukuran dan merk yang sama. Susu tersebut dijual di toko A dan B,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan, susu di toko A dijual dengan harga Rp23.000 dengan diskon 10 persen, sedangkan di toko B dijual dengan harga Rp20.000. Sebanyak 30 persen, katanya, konsumen memilih harga susu yang 10 persen lebih murah dibandingkan susu yang tidak didiskon. Sementara 11,6 persen konsumen menyatakan tidak mengetahui susu mana yang harganya lebih murah.

Selain itu, Mega mengingatkan kepada konsumen untuk membaca label setiap produk. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan sebab label merupakan informasi penting menyangkut nama produk, bahan yang terkandung, isi, daya tahan, kegunaan produk, keterangan halal, hingga tanggal kadaluwarsa.

Mega menambahkan, hanya 37,9 persen konsumen yang sering mambaca label makanan ketika membeli suatu produk pangan, selebihnya tak memperhatikan label.

Lebih lanjut ia mengatakan, beberapa alasan yang menyebabkan konsumen tidak terbiasa membaca label makanan kemasan seperti loyalitas merk dagang, keterbatasan waktu, hingga persepsi konsumen bahwa produk yang dipilihnya sehat.

Ia pun menegaskan, beberapa kasus yang merugikan konsumen adalah makanan kemasan yang dibeli seolah-olah terisi penuh, padahal kenyataanya tidak penuh.

Bahkan, sambungnya, produk impor yang tidak mencantumkan komposisi dan uji laboratorium sehingga memicu kecurigaan terhadap bahan berbahaya yang tidak layak dikonsumsi. “Kasus susu yang tercemar bakteri Clostridium botulinum merupakan contoh yang merugikan konsumen,” tandasnya.

Berdasarkan hasil penelitian, katanya, hanya 21,2 persen yang menyampaikan keluhan ketika merasa kurang puas dengan produk yang dibelinya.

“Padahal, perlu diketahui bahwa salah satu hak konsumen yang tercantum dalam Undang-Undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) adalah mendapat ganti rugi apabila barang yang diterima tidak sesuai dengan harga yang dibelinya,” pungkasnya.