Lahan Apung di Atas Laut Atasi Krisis Lahan Pertanian Indonesia

Kampus IPB di Dramaga, Kabupaten Bogor. (Foto: Net)
Kampus IPB di Dramaga, Kabupaten Bogor. (Foto: Net)

Bogor, BOGOR DAILY ** Luas halan pertanian di Indonesia terus berkurang saban tahunnya. Kini, lahan pertanian aktif di Indonesia tak lebih dari 25 juta hektare. Kenyataan ini tidak berimbang dengan proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia sebanyak 293,88 juta jiwa di tahun 2020 mendatang.

Penambahan jumlah lahan pertanian di daratan dipastikan bakal menyusutkan luasan hutan, berganti menjadi pertanian. Masalah baru pun akan mucul dari pola tersebut.

Tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Aldri Fajar Muhammad, Azhar Triramanda, dan Dimas Ramdhani menawarkan gagasan tertulis konsep Agrocoastal.

Agrocoastal dipercaya bakal menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis lahan pertanian pangan di Indonesia, bahkan menambah luasan lahan pertanian.

Seperti dikutip dari siaran resmi IPB, Rabu (8/10), konsep Agrocoastal System dikembangkan dengan memanfaatkan wilayah perairan di daerah pesisir sebagai daerah produktif pertanian pangan.

Gagasan tertulis ketiga mahasiswa IPB ini juga berhasil memenangkan medali emas di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXVII di Semarang.

“Agrocoastal System merupakan sistem budidaya tanaman pangan yang menggunakan daerah pesisir laut sebagai lahan garapan. Konsep ini merupakan solusi penyelesaian krisis lahan pertanian dengan cara memanfaatkan wilayah perairan di daerah pesisir sebagai lahan alternatif. Daerah pesisir yang dimaksud mencakup pantai hingga laut wilayah pesisir (coastal zone),” terang Azhar Triramanda.

Ada dua cakupan wilayah yang diklasifikasikan berdasarkan fungsinya yakni Main Agrocoastal dan Supporting Agrocoastal (Outer Floating Area). Main Agrocoastal berfungsi sebagai tempat penerapan aquaponic atau kombinasi budidaya ikan dan tanaman pangan.

Sedangkan Supporting Agrocoastal (Outer Floating Area) berfungsi sebagai pemecah ombak agar tidak terjadi kerusakan pada area main agrocoastal juga sebagai pembangkit tenaga gelombang laut (wave energy).

Untuk mendukung konsep ini dibutuhkan sarana lahan apung statis yang berfungsi sebagai lahan pengganti, layaknya lahan pertanian di daratan. Lahan apung statis akan dibuat mengapung di atas laut. Dengan begitu, para pelaku industri pertanian yang memakai sistem ini dapat memperluas lahannya sesuai dengan kebutuhan industri dengan cara menambah lahan apung statis yang tersedia.

“Pembangunan lahan tanam di lahan apung statis menggunakan metode aquaponic yang mempunyai keuntungan ganda yaitu hasil perikanan dan pertanian. Namun, penerapan aquaponic di lahan apung statis membutuhkan tenaga listrik yang besar. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dibentuk pembangkit listrik sendiri di wilayah supporting Agrocoastal yang menggunakan energi gelombang laut. Energi ini dipilih sekaligus memperkenalkan teknologi terbaru di wilayah lautan,” ujar Azhar Triramanda.

Perlu Dukungan Pemerintah

Untuk mengimplementasikan gagasan ini dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, diantaranya Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, sebagai pendukung proyek agrocoastal dalam skala besar; Kementerian Pertanian, untuk mendukung penyebarluasan gagasan agrocoastal sebagai sistem pertanian yang dapat diterapkan di wilayah pesisir pantai ; Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebagai pendukung untuk menyebarluaskan gagasan agrocoastal untuk budidaya ikan dan mendukung terealisasinya sistem agar diterapkan di wilayah pesisir pantai; pemerintah daerah, sebagai pendukung terealisasinya kebijakan gagasan Agrocoastal’s System, investor, sebagai pengguna Agrocoastal’s System untuk bisnis pertanian modern skala besar, dan masyarakat pesisir, sebagai sumberdaya manusia yang ikut terlibat bersama investor di dalam penerapan Agrocoastal’s System.

Dengan adanya sistem Agrocoastal ini, laju deforestasi (penyusutan luas hutan) bisa dihambat, bahkan dihentikan secara total. “Walaupun lahan yang digunakan adalah wilayah pantai, dengan sistem Agrocoastal lahan pertanian bisa meluas hingga wilayah laut,” katanya.

Ia menambahkan, sistem ini juga nantinya akan bermanfaat untuk memberdayakan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Masyarakat pesisir juga mendapatkan keuntungan secara ekonomis untuk menambah pendapatan dan investor pun akan memperoleh keuntungan dari hasil panen.

“Agrocoastal’s system ini juga dapat menjadi daya tarik wisata pendidikan dan pertanian laut di Indonesia yang disebut dengan Agrocoastal Edu-tourism,” pungkasnya.