IPB: Perlu Standardisasi Hulu Hilir Jamu Produk Biofarmaka

Produk biofarmaka Indonesia menurun 0,6 persen dari tahun 2000 hingga sekarang. (Foto: IST)
Produk biofarmaka Indonesia menurun 0,6 persen dari tahun 2000 hingga sekarang. (Foto: IST)

Kota Bogor, BD – Ir. Siswoyo merilis hasil penelusuran peneliti Fakultas Kehutanan Istitut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, potensi tanaman herbal Indonesia baru dikenal sekitar 29.375 jenis.

Siswoyo mengatakan, banyak persoalan di hulu yang dapat mengancam kelestarian tumbuhan obat Indonesia. Diantaranya makin banyak konversi lahan sehingga berkuranglah potensi lahan untuk tanaman obat.

Disamping itu, lanjut dia, kurangnya perhatian terhadap pengelolaan dan budidaya tanaman obat, termasuk telah terkikisnya budaya dan pengetahuan tradisional masyarakat yang lebih memilih obat warung daripada obat herbal.

”Penting kiranya kebijakan pemerintah yang tepat guna bagi kawasan konservasi dan pelestarian tanaman obat,” kata Siswoyo dalam Seminar Sehari Standardisasi Hulu Hilir Jamu Produk Biofarmaka, di Hotel Salak, Kota Bogor, Kamis (25/9).

Meski potensi Indonesia kaya akan biodiversitas tanaman obat, namun tidak mampu bersaing di pasar dunia, kata Dr. Ir. Eka Intan. Faktanya, posisi dan daya saing produk herbal Indonesia masih rendah karena masih sulit dipasarkan, baik di dalam negeri maupun ekspor.

”Hal ini karena produknya belum terstandarisasi. Belum lagi dengan pangsa pasar ekspor komoditas dan produk herbal Indonesia yang menurun 0,6 persen dari tahun 2000 hingga sekarang. Yang tak kalah ironis, produk herbal Indonesia rata-rata masih menggunakan teknologi sederhana, kualitas sumberdaya manusia pun terbatas dalam skill dan pengetahuannya,” jelasnya.

Berdasarkan hal ini, lanjut Eka, perlu ada strategi penguatan posisi produk herbal Indonesia dengan memperkuat teknologi produk herbal yang digunakan oleh industri rumah tangga (IRT) agar dapat mengurangi biaya produksi dan mampu berdaya saing.

”Yang krusial, peningkatan komitmen pemerintah dalam penguatan daya saing produk herbal Indonesia serta perlunya peningkatan kualitas SDM yang berkecimpung dalam produk herbal,” tegasnya.

Acara seminar sehari ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB, Dr.Prastowo dengan dihadiri oleh sekitar 110 peserta, yang terdiri dari para peneliti, pejabat pemerintah, dan praktisi.