Peneliti: Swasembada Susu Tahun 2020 Terancam Gagal

Swasembada susu pada tahun 2020 terancam gagal bila kebijakan tahun 2011 masih digunakan. (Foto: health impact news)
Swasembada susu pada tahun 2020 terancam gagal bila kebijakan tahun 2011 masih digunakan. (Foto: health impact news)

Bogor, BOGOR DAILY ** Konsumsi susu masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sementara, produksi susu dalam negeri baru bisa memenuhi kebutuhan sebesar 30 persen, selebihnya impor.

Konsumsi susu masyarakat Indonesia sekitar 11,09 liter per kapita per tahun, menurut data pada 2011. Tingkat konsumsi ini masih di bawah Bangladesh (31 liter per kapita per tahun), India (40 liter per kapita per tahun) dan Kamboja (12,97 liter per kapita per tahun).

Pemerintahan Indonesia, menarget swasembada susu, dengan pengurangan impor susu menjadi 50 persen pada tahun 2020 mendatang. Peneliti bidang agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ratna Winandi Asmarantaka memastikan bahwa target pemerintah tidak akan tercapai jika kebijakan tahun 2011 berlanjut dengan cara pandang upaya peningkatan produksi susu masih sebagai business as usual.

“Sebenarnya potensi sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia memungkinkan pengembangan agribisnis sapi perah. Namun, jika kebijakannya tidak berubah, yang terjadi adalah peningkatan total kebutuhan susu nasional lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan total produksi susu nasional,” terang Ratnda dalam keterangan pers, Senin (5/1/15).

Analisis tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya bersama Ir. Juniar Atmakusuma, MS, Dr. Siti Jahroh dan Ir.Harmini, MSi dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB. Penelitian yang dilakukan tim ini adalah menganalisis kebijakan swasembada susu dengan pendekatan model sistem dinamik.

Dari hasil penelitian tersebut ada dua skenario yang ditawarkan untuk mensukseskan swasembada susu pada 2020.

Skenario pertama, dimaksudkan untuk mengakomodasi kebijakan pemerintah atas sasaran strategis yang ingin dicapai ke dalam model dinamis. Skenario ini disusun melalui perbaikan pada beberapa parameter model dinamis, yakni dengan mentargetkan program penambahan populasi sapi perah betina dewasa pada tahun 2012 sebanyak 2.300 ekor, peningkatan angka konsepsi (calfing rate), peningkatan produktifitas susu (2.672,54 liter per ekor betina dewasa) dan peningkatan tingkat kelulusan hidup (survival rate).

“Program pemerintah dalam calfing rate ditargetkan mencapai 70 persen, jika berhasil diharapkan dapat meningkat secara bertahap hingga 75 persen pada 2016. Untuk survival rate sebesar 85 persen, peningkatannya bisa dari pembibitan ternak rakyat dan penerapan inovasi teknologi. Peningkatan ini masih memiliki potensi untuk dicapai,” ujar Dr. Ratna.

Namun, lanjut dia, dari skenario pertama diprediksi pada tahun 2020 baru tersedia susu 44,02 persen dari total kebutuhan susu nasional, dengan sendirinya swasembada susu pada 2020 tidak tercapai karena masih harus impor sebesar 55,98 persen susu. Maka untuk mensukseskan swasembada perlu alternatif kebijakan yang target programnya harus lebih tinggi dan lebih cepat pencapaiannya dibanding skenario pertama.

Sekenario kedua, program yang masih realistis untuk ditingkatkan targetnya dan dipercepat pelaksanaannya adalah penambahan sapi perah betina dewasa melalui impor tahun 2012 dan 2013 masing-masing sebesar 2.300, peningkatan calfing rate hingga 82 persen dan peningkatan survival rate sampai 90 persen.