Industri Konsentrat Hijau Tingkatkan Daya Saing Peternak

Prof. Luki Abdullah, Guru Besar Institut Pertanian Bogor. (Foto: IPB)
Prof. Luki Abdullah, Guru Besar Institut Pertanian Bogor. (Foto: IPB)

Kabupaten Bogor, BOGOR DAILY ** Sepuluh tahun terakhit, biaya pakan ternak terus meningkat, dari 60 persen menjadi 80 persen dari biaya produksi. Selain memberatkan peternak juga menurunkan daya saing produk ternak lokal, kata Prof. Luki Abdullah, Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Jumat (31/11) di Kampus IPB Darmaga, Kabupaten Bogor.

Ia mengatakan, peningkatan harga pakan ini dipicu oleh ketergantungan terhadap bahan konsentrat berbasis serealia dan biji-bijian import. “Serta hasil biomasa limbah agroindustri yang diekspor untuk industri lain berbasis teknologi biorefinery yang sudah berkembang di luar negeri,” terangnya.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Mewujudkan Konsentrat Hijau (Green Concentrate) dalam Industri Pakan untuk Kemandirian Pakan dan Daya Saing Peternakan Nasional”, Luki menyebutkan, konsentrat hijau merupakan pakan padat nutrisi dengan kandungan serat kasar kurang dari 18 persen yang bahan bakunya berasal dari hijauan pakan.

Konsentrat hijau dalam ransum berfungsi untuk mengoreksi kekurangan nutrient yang tidak didapatkan dari bahan lain. “Salah satu legum prospektif di Indonesia yang bisa dikembangkan sebagai bahan konsentrat hijau adalah indigofera zollingeriana. Indogofera ini telah diamati sejak tahun 2008,” tuturnya.

Pola pengembangan industri konsentrat hijau di masyarakat dipandang tepat agar produknya dapat dimanfaatkan langsung oleh para peternak yang menghemat biaya transportasi dan mendorong dinamika ekonomi di pedesaan.

“Perlu dukungan pemerintah dan swasta untuk menginisiasi lebih luas industri konsentrat hijau dan  mendukung pengembangan leguminosa pohon di wilayah pengembangan ternak yang diintegrasikan dengan pabrik konsentrat hijau,” pungkasnya.