Masuk Bogor, Investor Disambut dan Diawasi

Hotel Amaroosa lebih tinggi daripada landmark Kota Bogor (Tugu Kujang) merugikan warga Bogor secara immaterial. (Foto: Suut Amdani)
Hotel Amaroosa lebih tinggi daripada landmark Kota Bogor (Tugu Kujang) merugikan warga Bogor secara immaterial. (Foto: Suut Amdani)

Kota Bogor, BOGOR DAILY ** Kota Bogor punya daya tarik kuat bagi investor di berbagai bidang, seperti sektor jasa perhotelan, pedagangan ritel, dan perumahan. Namun, dalam pengembangan bisnisnya, investor masih banyak melanggar beberapa peraturan, seperti perizinan dan dampak kemacetan.

Dengan seluruh permalasahan investasi bisnis yang umumnya terkait perizinan Walikota Bogor Bima Arya menegaskan, “Untuk pembangunan Kota Bogor, investor harus disambut, namun perlu diawasi dengan ketat dan perlu memperhatikan bermacam aspek yang terkait dalam pemberian izin.”

Bersama Wakil Walikota Usmar Hariman, dan perwakilan dari beberapa SKPD, Walikota Bogor melakukan press conference terkait dengan isu yang terus menjadi perbincangan publik selama kepergiannya ke tanah suci.

Beberapa hal yang disampaikan Walikota dalam press conference tersebut terkait polemik Hotel Amarossa, Terminal Baranangsiang, Botanical Residence, dan Giant Dramaga.

Hotel Amarossa

Terkait dengan permasalahan Amaroossa, Bima Arya menjelaskan bahwa masalah tersebut melibatkan dua aspek utama, yaitu Aspek Teknis dan Aspek Sosiokultural.

Isu teknis sendiri berupa ketentuan IPPT (Izin Penggunaan Pemanfaatan Tanah) terkait KDB 60% (lahan boleh dibangun) dan 40% (lahan terbuka) dan beberapa pelanggaran yang dilakukan Amarossa, diantaranya pelanggaran Perda Kota Bogor No. 7 tahun 2006 tentang Bangunan Gedung karena luas lantai dasar lebih luas 27,84 m2 dari luar yang tercantum dalam IMB.

Selain itu dibahas pula mengenai pelanggaran Amdallallin yang seharusnya menyediakan area parkir sesuai dengan jumlah kamar yang ada, pihak Amaroossa juga melakukan penambahan parkir di Jalan Bangka tanpa izin, sehingga ada kemungkinan pengurangan jumlah lantai atau jumlah kamar yang akan dikaji lanjut oleh Tim Ahli. Amaroossa juga menggunakan tanah negara sebesar 29,34 m2 secara illegal.

Pelanggaran lainnya yang dilakukan Amaroossa adalah salah satu dari dua sumur milik Amaroossa tidak memiliki izin, sehingga sumur tersebut harus ditutup/disegel. Menurut data PDAM, pemakaian air Hotel Amaroossa antara 0-27 m3, ketika sudah dilakukan penyegelan pemakaian air mencapai 1800 m3, oleh karena itu ditemukan pidana pencurian air tanah karena pemakaian air tanah yang melebihi ketentuan (30 m3/hari).

Selain isu teknis terdapat pula aspek sosikultural terkait masalah Amaroossa, hal ini disebabkan keberadaan Hotel Amarossa telah menimbulkan keresahan sosial karena melanggar nilai-nilai sosial, budaya dan kultural warga Bogor. Hal ini juga bertentangan dengan azas dan tujuan pada Perda No. 7 tahun 2006 tentang prinsip-prinsip tata bangunan yang serasi dengan lingkungannya Bima Arya menjelaskan bahwa bangunan yang lebih tinggi daripada landmark Kota Bogor (Tugu Kujang) merugikan warga Bogor secara immaterial.

“Kami meminta untuk dilakukan penyesuaian terhadap nilai bangunan yang ada disekitarnya, nantinya tim ahli bangunan pun akan merumuskan ketinggian bangunan. Untuk masalah tim ahli bangunan sendiri sudah ada draftnya, namun kesempatan ini masih mau dibuka luas lagi pada masyarakat. Jangan sampai Amarossa menjadi monumen “pembiaran” ketika masyarakat melihatnya,” kata imbuh Bima Arya.

Botanical Residence

Disamping masalah Amarossa disampaikan pula mengenai aspek yang mengganjal dari Botanical Residence. Masalah pembangunan Apartemen yang berlokasi di  Kelurahan Tegal Lega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, milik PT Laksana Eka Marga ini bermula dari keberatan warga mengenai pembangunan apartemen yang nantinya akan berpontensi menimbulkan kemacetan serta akses menuju lokasi yang sulit.

Pihak Botanical sendiri telah membuat surat pernyataan terkait kesediaannya mematuhi peraturan dan ketentuan yang dibutuhkan dalam pembangunan tersebut. Bima Arya menegaskan jika pihak Botanical dinilai melanggar atau tidak sesuai maka akan ditarik izinnya.

“Pihak Botanical Residence akan dimintai penjelasan mengenai akses keluar dan masuk. Kita tidak mau pembangunan ini justru meresahkan dan mengganggu masyarakat. Jika dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan dan surat pernyataan maka akan ditarik izinnya,” tegas Walikota.

Terkait polemik yang terjadi dengan rencana pembangunan Botanical Residence, Bima Arya akan memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya melalui Public Hearing dengan pihak terkait untuk mengetahui bermacam keberatan sehingga pada akhirnya dapat dicapai sebuah kesepakatan. Bima Arya menambahkan pembangunan Botanical Residence harus dimulai dengan pembuatan akses, serta adanya kompensasi pihak pengembang untuk warga dan membuka akses atau menambah infrastruktur.

Giant Extra Dramaga

Untuk masalah Giant Dramaga, Bima Arya menjelaskan lalu lintas yang padat bukan sepenuhnya efek Giant Dramaga, karena arus kendaraan ke dan dari Giant Dramaga tidaklah masif. Celukan yang dibuat telah berfungsi dengan baik. Giant Dramaga juga memiliki PKD yang dikerahkan untuk membantu mengatur lalu lintas, dengan dibantu personil DLLAJ yang terus mengawasi.

PT KAI

Sebelum menutup Press Conference, Bima Arya juga menyinggung PT KAI yang turut menjadi pemberitaan hangat beberapa pekan ini, pihaknya dan PT KAI sudah memiliki skenario pembicaraan yang baik diantara kedua pihak. Selain itu sudah ada juga master plan antara PT KAI dan Pemkot Bogor, maka dari itu akan segera dilaksanakan ekspos terkait permasalahan yang ada.

Oleh karenanya, proses teknis masih akan terus dikaji. Dan untuk masalah kemacetan di Kota Bogor, langkah yang akan dilakukan adalah mengurai titik kemacetan, seperti di seputar stasiun, dinas terkait akan menata kembali masalah angkutan kota (Angkot) terkait trayek, kir, dan lain sebagainya. Serta akan dilakukan pengkajian pengalihan angkot ke trans pakuan.